Painan I Redaksisatu.id Pessel – Di tengah gemuruh kehidupan masyarakat pesisir yang kerap berhadapan dengan ketimpangan hukum, muncul sosok advokat muda yang menyalakan harapan baru bagi mereka yang lemah dan terpinggirkan. Ia adalah Nof Erika, S.Hi., putra Buya Kabari dari Tarusan, yang kini memilih jalan pengabdian lewat dunia hukum setelah menutup bab panjang karier politiknya.
Selama bertahun-tahun, publik mengenal Nof sebagai figur politik yang aktif di sejumlah partai besar di Sumbar dan Sorong Papua Barat. Bahkan ia pernah menjadi Sekretaris Umum bagi almarhum Mayjen (Purn) Ikasuma Hamid, sang ketua DPW Partai Bintang Reformasi Sumbar. Namun, dua tahun terakhir hidupnya berubah arah. Ia meninggalkan hiruk-pikuk politik praktis dan memilih jalur yang lebih sunyi—menjadi advokat rakyat kecil.

“Bagi saya, hukum itu bukan sekadar pasal dan angka, tapi tentang manusia—tentang keadilan yang bisa dirasakan,” tuturnya lembut melalui sambungan telepon, belumlama ini.
Membuka Mata Kaum Pesisir Selatan Sumbar
Sejak menekuni profesi advokat, kiprah Nof terasa nyata di tanah kelahirannya, Kabupaten Pesisir Selatan. Ia hadir di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai pengacara, tetapi juga sahabat bagi mereka yang buta hukum dan tak mampu membayar jasa profesional.
Ia menangani berbagai perkara sederhana dengan sepenuh hati—dari sengketa tanah, persoalan waris, hingga pendampingan hukum bagi nelayan dan petani. Tak jarang, ia justru merogoh kocek sendiri demi membantu klien-kliennya.
“Kalau soal bayaran, bukan semata itu tujuan saya. Kadang malah saya yang keluar ongkos untuk membantu mereka,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Sikapnya yang tulus membuatnya dikenal luas di Pesisir Selatan. Ia kerap terlihat di surau, di warung kopi, atau di balai nagari—bukan untuk kampanye seperti dulu, melainkan untuk mendengar keluh-kesah warga dan memberi pencerahan hukum secara cuma-cuma.
Warisan Nilai dari Sang Ayah dan Kampus Muhammadiyah
Semangat pengabdian itu tak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari lingkungan religius yang kuat. Ayahandanya, Buya Kabari, adalah ulama kharismatik di Tarusan yang menanamkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan sejak dini.
Dari sang ayah, Nof belajar bahwa hukum sejati tidak berhenti pada pasal, tetapi harus berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan.
Latar belakang pendidikannya di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, jurusan Hukum Islam, turut memperkaya pandangannya. Ia memadukan pemahaman hukum positif dengan prinsip syari’ah yang menekankan keadilan, etika, dan moralitas.
Kini, langkahnya semakin mantap setelah dipercaya sebagai Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Asosiasi Pengacara Syari’ah Indonesia (APSI) Sumatera Barat, berdasarkan SK Ketua Umum APSI Nomor 015/SK/SPP-APSI/2025. Melalui wadah itu, ia bertekad memperkuat peran advokat berlatar belakang syari’ah agar lebih profesional dan berakhlak. ( Young Slomak )

